News

KAJIAN NEW NORMAL SEBAGAI REPRESENTASI PERGESERAN PARADIGMA MELALUI DISKUSI PANEL AICIS 2021

Perhelatan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-20 pada 25-29 Oktober di Surakarta nantinya akan megusung beberapa tema menarik pada forum panel discussionnya. Dengan judul panel New Normal As A Representation Of The Shifting Of Islamic Higher Paradigms In The Middle Of The Covid-19 Pandemic, Rahmat (Institut Pesantren KH Abdul Chalim Mojokerto) akan memimpin tiga panelis lainnya; Agus Sholahuddin (Universitas Merdeka Malang); Umi Salamah (STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang); Muhammad Rohmanan (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) untuk mengkaji new normal sebagai objek diskusi mereka.

Karena di tengah keadaan pandemi Covid-19, new normal menjadi suatu langkah alternatif percepatan penanganan Covid-19 di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Bahkan new normal ini dapat dikatakan sebagai perubahan paradigma yang sangat signifikan antara sebelum, selama, dan sesudah pandemi covid-19 terhadap institusi pendidikan. sehingga, keempat panelis dalam panel ini berusaha melakukan kerjasama penelitian ilmiah mengenai pergeseran paradigma dari normal ke new normal yang diterapkan di tiga institusi sebagai representasi dari tiga format pendidikan tinggi Islam (universitas, institut, sekolah tinggi), yaitu Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang; Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto; dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ma’had Aly Al-Hikam Malang.

Melalui pendekatan kualitatif dan penelitian lapangan dalam proses pengambilan data, keempat panelis berusaha mencerminkan penggunaan perspektif multidisiplin dalam mengkaji dan meneliti penerapan new normal. Diantaranya, bagaiamana Rahmat dalam artikelnya berusaha menjelaskan tentang pergeseran budaya akademik dan non-akademik di perguruan tinggi Islam, yang intinya adalah penurunan kualitas akademik intrakurikuler, seperti kuliah online; peningkatan kualitas akademik ekstrakurikuler, seperti webinar; dan peningkatan kualitas non-akademik, seperti perluasan jaringan relasi. Kemudian dalam artikel kedua, Sholahuddin mencoba mengkaji paradigma baru pendidikan lingkungan hidup berbasis “kampus tangguh” yang intinya merevitalisasi peran sivitas akademika sebagai khalifah Tuhan yang berbertanggung jawab mengelola dan melestarikan lingkungan hidup melalui pengenalan alam yang berpijak dari kajian Fiqh al-Bi’ah (Ecological Jurisprudence), perbaikan alam, dan pemanfaatan alam di tengah pandemi Covid-19.

Artikel ketiga yang tak kalah penting, Umi Salamah memaparkan bahwa pandemi Covid-19 berdampak pada ekonomi makro dan mikro terhadap civitas akademika.  Mereka mengalami kesulitan ekonomi untuk membayar biaya hidup dan kuliah. Namun, civitas akademika menunjukkan sikap proaktif dalam mencari langkah penyelesaian melalui hidup mandiri dan solidaritas sosial. selain itu kajian ini, juga menunjukkan bahwa perlunya perhatian pemerintah dalam menanggulangi dampak pandemi Covid-19 agar masyarakat tetap dapat  bertahan di kondisi yang susah ini.

Terakhir, Rohmanan melalui artikelnya mengkaji upaya pencegahan dan penanggulangan psikosomatik akademisi melalui penerapan empat pilar pendidikan karakter, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Misalnya, mengurangi akses informasi terkait Covid-19, aktif berolahraga, rendah hati dan berkomunikasi melalui media sosial. Sehingga, dengan melakukan kajian yang komprehensif terhadap penerapan new normal dengan dunia pendidikan, ekologi, ekonomi, dan karakter islami, hasil diskusi dalam panel ini berpotensi untuk memberikan landasan teoritis dan praktis bagi perguruan tinggi Islam khususnya untuk menghadapi berbagai permasalahan di tengah pandemi Covid-19.

(Naufal Aulia Hanif – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Leave Your Comment